Bagaimana Seni Bela Diri Bantu Sovannahry Em Kalahkan Rasa Malu Dan Kegelisahan

SovannahryEm_1

Sovannahry Em siap menjalani jalur barunya dalam seni bela diri dalam debutnya bersama ONE Championship di ajang ONE: DESTINY OF CHAMPIONS hari Jumat, 7 Desember ini.

Wanita keturunan Kamboja-Amerika berusia 26 tahun ini akan menghadapi atlet Ukraina Iryna “Delsa” Kyselova dalam laga pertama kartu pendahuluan di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun, banyak hal yang sebenarnya dapat mengalihkan perjalanan wanita muda yang berjuang meraih kepercayaan diri dan mengatasi kegelisahannya ini sebelum memasuki kehidupan dalam seni bela diri.

https://www.instagram.com/p/BrDBscogLfl/

“[Seni bela diri] adalah bagian terpenting bagi saya karena saya selalu merasa malu, serta tidak pernah menyukai segala jenis konfrontasi,” akunya.

“Saya tidak pernah terlalu bersikap tegas, namun saat anda berada di arena atau ring, anda dipaksa menghadapi sebuah konfrontasi.”

Budaya kompetisi telah mengubah Em menjadi wanita yang kuat dan percaya diri, serta menjadi seorang atlet berbakat dalam dunia bela diri campuran wanita.

Kini, saat ia bersiap menjalani debutnya bersama ONE, ia akan bergabung bersama perwakilan Kamboja lainnya, Chan Rothana, dalam kartu pertandingan di Kuala Lumpur itu.

Ia berharap untuk dapat terhubung dengan warisan dari negara asalnya untuk berbagi pengalamannya tentang bagaimana seni bela diri dapat memberdayakan banyak orang melalui keyakinan diri.

https://www.instagram.com/p/Bq_QMY-ge6q/

Di awal kehidupannya, keyakinan dirinya sangat rendah dan ia mengalami kegelisahan, bahkan sampai ia harus mengatasi stres hanya dari tiap panggilan telepon.

“Saya dulu merasa gelisah kapanpun saya harus memesan pizza,” akunya.

Walau keadaan Em saat ini sudah sangat berbeda, ia pun tetap bersiap untuk melawan Kyselova dalam sebuah laga divisi flyweight di Kuala Lumpur.

Ia kini tak kenal rasa takut dan memiliki determinasi untuk menunjukkan bagaimana seni bela diri dapat mengubah kehidupan anak-anak muda lainnya menjadi lebih baik.

Sampai di titik itu, ia bergabung bersama seorang atlet veteran dalam bela diri campuran, Yves Edwards, untuk mengarang sebuah buku anak-anak yang membantu mereka melihat kemampuan hidup yang dapat diberikan oleh seni bela diri.

https://www.instagram.com/p/Bq23gtlgCX-/

“Ini tentang mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak melalui seni bela diri,” sebut Em.

“Seringkali, seni bela diri memiliki [reputasi] yang buruk. Terkadang, orang tua memikirkan bahwa itu sangat kasar atau bahwa [anak-anak] akan menjadi perundung, [tetapi justru kebalikannya].”

Karakter Em sendiri menjadi bukti akan dampak positif dari seni bela diri.

Dengan sikap yang rendah hati dan sederhana, serta semangat besarnya untuk berkompetisi dan menang di tingkatan tertinggi, atlet Kamboja-Amerika ini memiliki determinasi untuk meraih kesempatannya bersama organisasi bela diri terbesar di dunia ini.

Selengkapnya di Fitur

Saemapetch Fairtex Abdulla Dayakaev ONE Fight Night 31 30 scaled
Zebaztian Kadestam Roberto Soldic ONE Fight Night 10 33
Samingdam Looksuanmuaythai Akif Guluzada ONE Friday Fights 85 20 scaled
Carlo Bumina ang Mauro Mastromarini ONE Fight Night 30 40 scaled
Masaaki Noiri Tawanchai PK Saenchai ONE 172 90 scaled
John Lineker Alexey Balyko ONE Fight Night 25 42 scaled
Allycia Hellen Rodrigues Cristina Morales ONE Fight Night 20 20
Lito Adiwang Adrian Mattheis ONE Friday Fights 34 29
Amy Pirnie Shir Cohen ONE Fight Night 25 51
John Lineker Asa Ten Pow ONE 168 32
Regian Eersel Alexis Nicolas ONE Fight Night 21 37
Superbon Marat Grigorian ONE Friday Fights 52